Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Oase. Tampilkan semua postingan

Saat Dakwah Terabaikan

hadicoyy-212
Mengerikan. Mungkin, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan akibat dakwah ditinggalkan. Tentang hal ini, Al-Qur'an dan as-Sunnah sangat keras dalam memberi peringatan. Nas-nas yang tegas, menyeruak di alam realita yang panas. Mulai dari tertimpa laknat Alloh, terancam azab, tidak dikabulkannya do'a, tersebarnya kerusakan dan kebinasaan secara massal, hingga orang-orang jahat menjadi penguasa, leluasa menzholimi umat.

“Telah dilaknati orang-orang kafir darikalangan Bani Israel melalui lisan Dawud dan Isa putra Maryam. Hal itu dikarenakan kemaksiatan mereka dan perbuatan mereka yang selalu melampaui batas. Mereka tidak melarang kemungkaran yang dilakukan oleh sebagian di antara mereka, amat buruk perbuatan yang mereka lakukan itu.”(QS. Al-Ma’idah: 78-79)

Bani Israel itu dikutuk oleh Alloh, ka-rena tidak melarang tindakan mungkar diantara mereka. Sebagian dikutuk menjadi kera, sebagian lagi menjadi babi, sedang sisanya hidup terlunta-lunta hingga saat ini. Nama Yahudi semacam identik dengan licik, angkuh, pengecut, tak pernah menepati janji hingga semua orang benci. Banyak Ne-gara yang tidak rela negerinya ditinggali orang Yahudi, seperti Spanyol, sampai de-ngan hari ini tidak menerima eksistensi Yahudi.

Kisah terkutuknya mereka berawal ke-tika mereka melanggar larangan Allohsubhanahu wa ta’ala menangkap ikan di hari sabtu. Sebagian mempermainkan larangan itu dengan me-masang perangkap ikan pada jum’at sore, lalu mengambil hasilnya di hari ahad pagi. Kelompok pertama mengingatkan bahwa itu adalah pelanggaran, kelompok kedua diam. Kelompok pertama yang berdakwah diselamatkan oleh Alloh, sedang orang-orang yang bermaksiat dikutuk menjadi kera. Sedang kelompok yang diam para ulama berbeda pendapat, menurut pendapat yang kuat, mereka diazab dengan azab se-rupa. (Lihat tafsir QS.al-Baqarah: 65-66)

Kutukan ini tidak hanya khusus bagi Yahudi di masa lampau, tapi bisa menimpa kepada orang-orang yang semisal mereka dimana saja. Rosululloh shalallohu ‘alaihi wa sallamsudah memberi tahu kita bahwa hukuman semacam itu bisa saja mengena umat Islam.

"Beberapa saat sebelum Hari Kiamat tiba, manusia akan diubah menjadi kera dan babi, ditelan bumi dan dihujani batu." (Shahih Ibnu Majah no.3280)

Kutukan itu bisa sirna jika dakwah di-tegakkan, sebab da’wah adalah obat mu-jarab pencegah laknat dan azab.

Dari Hudzaifah bin Al-Yamanrodhiallohu ‘anhu, Rosululloh shalallohu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya! Benar-benar kalian harus memerintahkan yang ma’ruf dan melarang dari yang mungkar, atau Alloh akan mengirimkan untuk kalian hu-kuman dari sisi-Nya kemudian kalian pun berdoa kepada-Nya namun permohonan kalian tak lagi dikabulkan.”(HR. Ahmad, dihasankan oleh Al-Albani)

“Tidaklah suatu kaum yang di hadapanmereka ada orang yang melakukan kemak-siatan, padahal mereka lebih perkasa dari-nya dan lebih mampu (untuk mengubah-nya), namun mereka tidak mengubahnya, melainkan Alloh menimpakan azab kepada mereka karenanya.” (HR. Ahmad)

"Perumpamaan orang-orang yang men-cegah berbuat maksiat dan yang melanggar-nya adalah seperti kaum yang menumpangkapal. Sebagian dari mereka berada di ba-gian atas dan yang lain berada di bagian bawah. Jika orang-orang yang berada di bawah membutuhkan air, mereka harus melewati orang-orang yang berada di atas-nya. Lalu mereka berkata: 'Andai saja kamilubangi (kapal) pada bagian kami, tentu kami tidak akan menyakiti orang-orang yang berada di atas kami'. Tetapi jika yang demikian itu dibiarkan oleh orang-orang yang berada di atas (padahal mereka tidak menghendaki), akan binasalah seluruhnya. Dan jika dikehendaki dari tangan mereka keselamatan, maka akan selamatlah semua-nya".(HR. Bukhari)

Kapal yang sudah bocor lalu tenggelamtelah pernah dialami negeri ini. Hantaman gelombang Tsunami, semburan Lumpur Lapindo, gempa bumi di Sumatera Barat, letusan gunung berapi di Yogyakarta, banjir dimana-mana memusnahkan anak bangsa beserta harta bendanya. Kapal karam, pe-sawat hilang di lautan dan di belantara hu-tan. Semua adalah akibat kemaksiatan yangtidak segera diingatkan, akibat da’wah ter-abaikan.

"Sesungguhnya Alloh tidak akan meng-azab orang-orang secara keseluruhan akibatperbuatan mungkar yang dilakukan oleh seseorang,kecuali mereka melihat kemung-karan itu di depannya, dan mereka sanggup menolaknya, akan tetapi mereka tidak me-nolaknya. Apabila mereka seperti itu, nis-caya Alloh akan mengazab orang yang me-lakukan kemungkaran tadi dan semua orangsecara menyeluruh." (HR. Imam Ahmad)

“Hendaklah kalian memerintahkan ke-ma’rufan dan mencegah kemungkaran, kalau tidak, Alloh pasti akan menjadikan orang-orang jahat di antara kalian menguasai kalian”(HR al-Bazzar dan ath-Thabrani).

Di depan mata, kita sudah bisa menyak-sikan kerusakan besar akibat da’wah di-tinggalkan. Kebodohan tumbuh subur de-ngan dianggapnya kebathilan sebagai kebe-naran. Manusia tenggelam dalam pelang-garan hukum-hukum-Nya, sedangdi waktuyang sama pelanggaran dipahami sebagai sebuah kebanggaan. Tindak kriminal bak wabah, menyebar luas lebar, tinggi dan me-ngakar. Hatihati menjadi keras lagi bebal tak mempan lagi dinasehati. Kebencian antar sesama terjadi setiap saat hampir me-nyelimuti segala sisi kehidupan. Sangat mengerikan.

Saat ini, kita semua sedang dalam si-tuasi genting sekali. Masa ini adalah masa darurat da’wah. Terabaikannya da’wah berarti kengerian akan terus saja mengaliri ruas-ruas kehidupan kita bahkan anak ke-turunan kita sepanjang hari. Kita tak bisa untuk tidak peduli.

Sebab, tidak peduli terhadap kemung-karan adalah tindak kriminal. Suatu waktu,sekelompok pemabuk dihadapkan pada Khalifah Umar bin Abdul Aziz untuk men-dapatkan hukuman. 

Sementara di sana juga ada seorang muslim yang duduk bersama mereka, tetapi dia tidak ikut-ikutan karena sedang berpuasa. Saat itu, polisi diperintah-kan untuk mencambuk semua orang yang ada di sana. 

Namun, sang polisi bertanya, “Wahai Amirul Mukminin, si fulan ini tidak ikut minum bersama mereka; dia sedang ber-puasa.” 
Umar bin Abdul Aziz tegas berkata,
“Cambuklah delapan puluh kali deraan, karena ia seperti orang-orang yang mabuk itu!” Me-ngapa demikian? Karena tindakan ini se-suai dengan firman Alloh QS.an-Nisa: 140.


Dan sungguh Allah telah menurunkan kepada kamu di dalam Al quran bahwa apabila kamu mendengar ayat-ayat Allah diingkari dan diperolok-olokkan , maka janganlah kamu duduk beserta mereka, sehingga mereka memasuki pembicaraan yang lain.Karena sesungguhnya (kalau kamu berbuat demikian), tentulah kamu serupa dengan mereka. Sesungguhnya Allah akan mengumpulkan semua orang-orang munafik dan orang-orang kafir di dalam Jahannam. 
(QS. 4:140)




Sumber
»»  Selanjutnya...
Bookmark and Share

Lidah adalah Amanah

hadicoyy-212
Kualitas diri seseorang bisa diukur dari kemampuannya menjaga lidah. Orang-orang beriman tentu akan berhati-hati dalam menggunakan lidahnya. "Wahai orang-orang beriman takutlah kalian pada Allah dan berkatalah dengan kata-kata yang benar." (QS Al-Ahzab:70). Sementara itu, Rasulullah saw bersabda, "Siapa yang beriman pada Allah dan hari akhir, maka hendaklah dia berkata baik atau diam". (HR Bukhari-Muslim).

Rasulullah adalah figur teladan yang sangat menjaga kata-katanya. Beliau berbicara, beruap, berdialog, juga berkhutbah di hadapan jamaah dengan akhlak. Demikian tinggi akhlak beliau hingga disebutkan bahwa kualitas akhlak beliau adalah Al-Quran. Mulut manusia itu seperti moncong teko. Moncong teko hanya mengeluarkan isi teko. Kalau ingin tahu isi teko, cukup lihat dari apa yang keluar dari moncong itu. Begitu pun jika kita ingin mengetahui kualitas diri seseorang, lihat saja dari apa yang sering dikeluarkan oleh mulutnya.

Nabi Muhammad saw termasuk orang yang sangat jarang berbicara. Namun, sekalinya berbicara, isi pembicaraannya bisa dipastikan kebenarannya. Bobot ucapan Rasulullah sangat tinggi, seolah tiap kata yang terucap adalah butir-butir mutiara yang cemerlang. Indah, berharga, bermutu, dan monumental. Ucapan Rasulullah saw menembus hati, menggugah kesadaran, menghujam dalam jiwa, dan mengubah perilaku orang (atas izin Allah). Bukan saja karena lisan Rasulullah dibimbing Allah dan posisinya sebagai penyampai wahyu, di mana ucapan-ucapan darinya menjadi dasar hukum. Lebih dari itu, Rasulullah sejak kecil sudah dikenal sebagai Al-Amin, tidak pernah berkata dusta walau sekali saja. Investasi moral ini tentu sangat mempengaruhi kualitas ucapannya.

Dalam sebuah kitab ada keterangan menarik. Disebutkan ada empat jenis manusia diukur dari kualitas pembicaraannya.

Pertama, orang yang berkualitas tinggi. Kalau dia berbicara, isinya sarat dengan hikmah, ide, gagasan, solusi, ilmu, dzikir, dan sebagainya. Orang seperti ini pembicaraannya bermanfaat bagi dirinya sendiri, juga bagi orang lain yang mendengarkan. Jika dia diajak berbicara sekalipun ngobrol, ujungnya adalah manfaat.

Ketika disodorkan padanya keluhan tentang krisis, dengan tangkas dia menjawab, "Krisis adalah peluang bagi kita untuk mengevaluasi kekurangan yang ada. Dengan krisis, siapa tahu kita akan lebih kreatif? Kita bisa mencari celah-celah peluang inovasi. Pokoknya jangan putus asa, semangat terus!" Siapa saja yang biasa berbicara tentang solusi, gagasan, hikmah, dan hal-hal serupa itu, insya Allah dia adalah manusia yang berkualitas.

Kedua, orang yang biasa-biasa saja. Ciri orang seperti ini adalah selalu sibuk menceritakan peristiwa. Melihat ada kereta api terguling, dia berkomentar ribut sekali. Seolah dirinya yang kelindes kereta. Ketika bertemu seorang artis, terus dicerita-ceritakan tiada henti. Pokoknya ada apa saja dikomentari. Dia seperti juru bicara yang wajib berkomentar kapan pun ada peristiwa. Tidak peduli peristiwa layak dia komentari atau tidak.

Ini tipe manusia tukang cerita peristiwa. Prinsip yang dia pegang: "Pokoknya bunyi!" Tidak ada masalah dengan peristiwa. Jika melalui itu semua kita bisa memungut hikmah yang sebaik-baiknya, insya Allah peristiwa bermanfaat. Namun, jika dari peristiwa-peristiwa itu tidak ada yang dituju kecuali menunggu sampai mulut lelah sendiri, ini tentu kesia-siaan.

Ketiga, orang rendahan. Cirinya kalau berbicara isinya hanya mengeluh, mencela, atau menghina. Apa saja bisa jadi bahan keluhan. "Aduuuh ini pinggang, kenapa jadi sakit begini. Hari ini kayak-nya banyak masalah, nih!" Ketika kepadanya disodorkan makanan, jurus keluhannya segera berhamburan. "Makanan kok dingin begini? Coba kalau ada sambel, tentu lebih nikmat. Aduuuh, kerupuk ini, kenapa kecil-kecil begini?" Terus saja makanan dikeluhkan, walau kenyataannya semua akhirnya habis juga.

Mengeluh dan mencela, itu hari-hari orang rendahan. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Ketika turun hujan, hujan segera dicaci. "Ohh, hujan melulu, di mana-mana becek. Jemuran nggak kering-kering." Ketika di jalanan macet, mengeluh. Ketika ada lampu merah, mengeluh. Ketika ada polisi, mengeluh. Ketika ada orang meminta-minta, mengeluh. Dan seterusnya. Seolah tiada hari berlalu tanpa keluh-kesah. Alangkah menderita hidup orang yang dipenjara oleh keluh-kesah. Dia tidak bisa membedakan mana nikmat dan mana musibah. Seluruh lembar hidupnya dimaknai sebagai kesusahan, sehingga layak dikeluhkan.

Keempat, orang yang dangkal. Adalah mereka yang semua pembicaraannya tidak keluar dari menyebut-nyebut kehebatan dirinya, jasa-jasanya, kebaikan-kebaikannya. Padahal hidup ini adalah pengabdian untuk Allah. Mengapa harus kita membanggakan apa yang Allah titipkan pada kita?

Ada orang pakai cincin segera berkomentar, "Oh, itu sih mirip cincin saya." Ada orang beli mobil baru, "Nah, ini seperti yang di garasi saya itu." Ada kucing berbulu tebal melompat, "Kucing ini gondrong. Oh yaa, kucing gondrong itu mirip singa. Hai, tau nggak? Saya sudah pernah ke Singapura, lho. Hebat sekali kota Singapura. Hanya orang yang hebat saja bisa pergi ke sana." Orang-orang dangkal ini akan terus berbicara tiada henti. Tak lupa dia selalu menyelipkan kata-kata kesombongan dan membanggakan diri.

Orang-orang dangkal tiada bosan mengekspose diri, menyebut jasa, kebaikan, dan prestasinya. Dia selalu ingin tampak menonjol dan mendominasi. Jika ada orang lain yang secara wajar tampak lebih baik, hatinya teriris-iris, tidak rela, dan sangat berharap orang itu akan segera celaka. Inilah ilmu gelas kosong. Gelas kosong, maunya diisi terus. Orang yang kosong dari harga diri, inginnya minta dihargai terus. Kita harus berhati-hati dalam berbicara. Harus kita sadari bahwa berbicara itu dibatasi oleh etika-etika. Hendaklah kita ada di atas rel yang benar. Jangan sampai kita jatuh dalam apa-apa yang Allah larang.

Dalam berbicara kita jangan bergunjing (ghibah). Bergunjing adalah perbuatan yang ringan, bahkan bagi sebagian orang mungkin dianggap mengasyikkan. Namun, jika dilakukan dengan sengaja, apalagi dengan kesadaran penuh dan tekad menggebu, bergunjing bisa menjadi dosa besar.

"Dan janganlah kalian ber-ghibah (bergunjing) sebagian kalian terhadap sebagian yang lain. Apakah suka salah-seorang dari kalian makan daging bangkai saudaranya? Maka, kalian tentu akan sangat jijik kepadanya. Dan takutlah kalian kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat." (QS Al-Hujurat:12).

Kita tidak bisa memaksa orang lain berbuat sesuai keinginan kita. Tapi kita bisa memaksa diri kita untuk melakukan yang terbaik menyikapi sikap orang lain. Banyak bicara tidak selalu buruk, yang buruk adalah banyak berbicara kebatilan. Boleh-boleh saja kita produktif berbicara, tapi harus proporsional. Jika kita berbicara hal yang benar dan memang harus banyak, tentu kita lakukan hal itu. Pembicaraan seringkali bergeser dari rel kebaikan ketika kita tidak proporsional.

Semua orang harus menjaga lidahnya. Tidak peduli apakah itu orang-orang yang dianggap ahli agama. Orang-orang yang pandai membaca Al-Quran atau hadis, tidak otomatis pembicaraannya telah terjaga. Di sini tetap dibutuhkan proses belajar, berlatih, dan terus berjuang agar mutu kata-kata kita semakin meningkat.

Alangkah ironi jika orang-orang yang ahli agama, namun tidak menjaga lisan. Dia banyak menasihati umat dengan perilaku-perilaku yang baik, tapi saat yang sama dia tidak melakukan hal itu. Jika orang-orang preman berkata kasar, jorok, dan tak mengenai tata krama, orang masih maklum. Namun, jika orang-orang alim yang melakukannya, tentu ini adalah bencana serius.

Satu langkah konkret untuk memulai upaya menjaga lisan adalah dengan mulai mengurangi jumlah kata-kata. Makin sedikit bicara, makin tipis peluang kesalahan. Sebaliknya makin banyak bicara, peluang tergelincir lidah semakin lebar. Jika lidah kita telah meluncur tanpa kendali, kehormatan kita seketika akan runtuh. Berbahagialah bagi siapa yang bisa berkata dengan akhlak tinggi. Selalu berkata baik. Jika tidak, cukup diam saja!

Saudaraku, sadarilah bahwa lidah ini adalah amanah. Tiap-tiap kata yang terucap darinya kelak akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah. Jadikan ucapan-ucapan kita adalah modal untuk mengundang keridhaan Allah. Jangan jadikan kata-kata itu sebagai sebab datangnya murka dan kebencian-Nya.

Semoga Allah SWT membimbing lisan kita untuk berucap mengikuti keteladanan Rasulullah saw. Ucapan itu keluar dari lisan bagai untaian mutiara yang sarat dengan kebenaran, berharga, bermutu, dan membawa maslahat bagi siapa pun yang mendengarkannya. Amin. Wallahu a`lam bishshawab. 




Sumber:  http://www.cybermq.com/ 
»»  Selanjutnya...
Bookmark and Share

Berkah kah Hidup Anda..???

hadicoyy-212
Mukadimmah 
Insya Allah, dalam kajian Romadhon ini akan dikaji tentang Berkah yang akan di bagi beberapa bagian. Dan pembahasan yang menjadi topik utama adalah tentang BERKAH . Dan tentu saja kata BERKAH ini mudah dipahami oleh kita selain sesuatu yang selalu menjadi impian kita. Dan bahkan mungkin ini yang selalu kita cari selama ini tanpa kita sadari, seperti harta yang berkah, pekerjaan berkah, karir berkah, jodoh berkah, anak berkah, rumah yang berkah dan lainnya.

Ya Allah, berkahi rezeki yang telah Kau berikan dan perilahalah kami dari siksa Api Neraka 


Adakah Berkah Itu…!!! 

Tentu saja berkah itu ada dan jelas terlihat dengan banyaknya ayat-ayat Qur’an serta hadist-hadist Nabi yang menyebut kalimat Berkah.
Beberapa ayat Qur’an menyebutkan:

“Dan Kami selamatkan Ibrahim dan Luth ke sebuah negeri yang Kami telah berkahi untuk semua manusia.” (QS. Al-Anbiya: 71)

“Kami limpahkan keberkahan atasnya dan atas Ishaq. dan diantara anak cucunya ada yang berbuat baik dan ada (pula) yang zalim terhadap dirinya sendiri dengan nyata.” (QS. Ash-Shafat: 113)

Sedangkan contoh dari hadist antara lain:

“Sahurlah kalian karena sahur itu mengandung berkah.” (HR. Bukhari)

“Sesungguhnya yang aku paling takuti sepeningalku adalah tidak dibukanya berkah bumi pada kalian.” (HR. Bukhari) 


Kalau Gitu Apa sih Berkah itu..??? 

Berkah itu gampangnya seperti ini: Bertambahnya sebuah kebaikan terus menerus baik pada diri seseorang ataupun terhadap orang lain di sekelilingnya, bahkan bisa jadi sampai ia wafat. Dan dengan berkah itu bertambah dan terus berkembang berbagai macam kebaikan dan kenikmatan. 
Misalnya bertambahnya pahala, adanya rasa nikmat, ada rasa bahagia, adanya rasa cukup, ada damai di hati, banyak manfaat yang diperoleh, timbul tali silaturhami yang kuat, rukun dan lainnya.
Dengan kata lain, jika seseorang diberi harta yang berkah, Insya Allah ada rasa cukup, ia sering bersyukur atas nikmat harta tersebut, kebutuhan pokok dapat terpenuhi, dan yang paling penting hatinya merasa bahagia dan tentram dengan harta yang berkah itu. Meskipun harta itu tidak melimpah dan sebaliknya harta yang tidak berkah itu, akan terasa tidak cukup meskipun melimpah, dan yang paling gawat terasa tidak cukup, dan tidak membuat hatinya tenang, tentram dan bahagia.

Beberapa Contoh Yang Disebut Berkah 


  • Berkah itu harta sedikit namun dirasakan dapat memenuhi semua kebutuhan serta terasa nikmat



  • Sebuah barang meskipun tidak mewah, tetapi dapat dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang



  • Berkah itu adalah selamat dari mara bahaya



  • Berkah itu jika ada masalah kemudian dapat menemukan solusi jitu tanpa disangka-sangka



  • Berkah itu adalah sesuatu yang dapat memberikan ketenangan batin dan hidup tentram



  • Berkah adalah ketika seseorang mendoakan kita dengan ikhlas



  • Berkah itu adalah jiwa yang tenang, tentram dan bahagia


  • Dan lainnya


    Sumber
    »»  Selanjutnya...
    Bookmark and Share

    Kedalaman Makna Surat Al Ikhlash

    hadicoyy-212
    Oleh Mahmud Yunus

    Allah SWT berfirman: "Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus." (QS Al- Bayyinah [98]: 5). Dalam ayat lainnya: "Luruskanlah mukamu (dirimu) pada setiap shalat dan sembahlah Allah dengan mengikhlaskan ketaatanmu kepada-Nya." (QS Al-'Araf [7]: 29).

    Ahli tafsir menjelaskan, yang dimaksud dengan lurus adalah menghindari perbuatan syirik (menyekutukan Allah SWT dalam segala bentuknya dan terhindar dari penyimpangan sekecil apa pun). Kewajiban menjaga keikhlasan dalam beribadah kepada Allah SWT ditegaskan berulang-ulang di dalam Alquran.

    Bahkan, surah ke-112 dinamai dengan Al-Ikhlash (memurnikan keesaan Allah). Secara fisik surah Al-Ikhlash itu terdiri atas empat ayat pendek, namun kandungannya sangat panjang dan luar biasa.

    Rasulullah SAW bersabda, "Membaca 'Qul huwa Allahu ahad' pahalanya setara dengan membaca sepertiga Alquran." (HR Bukhari, Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, An-Nasa'I, Ibn Majah, Malik, Ahmad, Thabrani, Al-Bazzar, dan Abu 'Ubaid).

    Oleh karena itu, Saja' Al-Ghanawi RA mengatakan, "Barang siapa membaca 'Qul huwa Allahu ahad' tiga kali, maka ia seakan-akan membaca Alquran seluruhnya." Atau, sebagaimana diriwayatkan oleh Ahmad, bahwa Muadz ibn Anas RA berkata, "Barangsiapa membaca 'qul huwa Allahu ahad' sebelas kali, maka Allah (akan) membangunkan sebuah rumah untuknya di Surga."

    Atau, seperti yang diriwayatkan Thabrani, bahwa Fairuz RA berkata, "Barangsiapa membaca 'Qul huwa Allahu ahad' seratus kali, di dalam shalat atau lainnya, maka ia dicatat oleh Allah sebagai orang yang terbebas dari siksa Neraka." Dan, masih ada beberapa riwayat yang lainnya. Namun, perlukah kita menghitung-hitung "kebaikan" atau "ketaatan" kita sendiri?

    Menurut Ibn Sina sebagaimana dikutip Muhammad Quraish Shihab dalam salah satu karyanya, niat atau motivasi beribadah itu bertingkat-tingkat. Pertama, tipe pedagang (mengharap keuntungan). Kedua, tipe budak atau pelayan (takut terhadap majikannya).

    Ketiga, tipe 'arif (bersyukur atas segala yang diberikan Allah SWT kepadanya). Dan tipe lainnya dinamakan sebagai tipe robot (otomatis, tanpa pemikiran, tanpa pemahaman, dan tanpa penghayatan).

    Tentu bijaksana, jika kita terbiasa melaksanakan ibadah menurut tipe 'arif. Sebab, sebagaimana dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya bahwa tidak sedikit amal (ibadat) yang dibatalkan atau dihapuskan pahalanya akibat niatnya tidak murni karena Allah SWT. Wallahu 'alam.




    Sumber:  http://www.republika.co.id/ 

    »»  Selanjutnya...
    Bookmark and Share

    Kedahsyatan Efek Berbaik Sangka

    hadicoyy-212
    Kedahsyatan Efek Berbaik Sangka

    Oleh Ustaz Muhammad Arifin Ilham

    Selain doa dan ikhtiar, ada amalan lain yang juga bisa mengantarkan proses 'perubahan takdir'. Amalan itu adalah amalan hati, yaitu selalu berbaik sangka (husnuzhan) dengan semua keputusan Allah SWT. Berbaik sangka merupakan produk dari olahan kekuatan iman. Tidak mungkin seseorang memiliki kemuliaan akhlak berupa husnuzhan, jika tidak yakin dengan segala sesuatu yang sudah diputuskan Allah.

    Seseorang yang mengaku beriman sadar benar bahwa dari setiap peristiwa maka Allah telah mentransformasikan mutiara hikmah untuk manusia. Yakni, sesuatu yang berharga yang hilang milik orang beriman (al-Hikmatu zhalatul mu'minin). Artinya, kejadian yang menimpa kita, pasti ada kadar atau nilai berharga yang sudah dipersiapkan untuk kita. Namun, sementara ini belum ditemukan. Karena itulah, kata Imam Ali karramallahu wajhah, ''Jika kita menemukannya, segeralah diambil; fain wajadaha akhadzaha.''

    Pertanyaannya, bagaimana bisa mengambil barang berharga itu, sementara kita sulit untuk mendeteksinya. Di sinilah peranan amalan hati, yaitu husnuzhan. Jika kita mempersangkakan bahwa ada banyak kebaikan yang telah Allah sediakan untuk kita dari takdir-Nya itu, akan benarlah persangkaan kita.

    Karena itu, bagaimana rupa takdir kita ke depan, turut ditentukan dari persangkaan kita terhadap-Nya. Simak Hadis Qudsy berikut, Anaa 'inda zhanni 'abdi bih, wa Ana ma'aka idza da'awtani, "Aku mengikuti persangkaan hamba-Ku tentang Aku. Dan aku bersamamu jika memohon kepada-Ku."

    Dengan demikian, husnuzhan bisa mengantarkan seseorang meraih apa yang diharapkan. Kalaulah saat ini kita sedang berduka karena kegagalan, bersegeralah husnuzhan bahwa akan ada kebaikan setelah kegagalan itu. Yakinlah bahwa takdir kita ke depan pasti dipenuhi dengan takdir kesuksesan. Tetaplah optimis. Selama hari masih menjelang, kesempatan meninggalkan kegelapan malam masih selalu terbuka. Dan, kita akan berada di jalur siang yang terang benderang.

    Keberuntungan orang yang husnuzhan, tak hanya didapatkan di dunia ini, tapi juga di akhirat kelak. Rasul menyebut orang yang husnuzhan sebagai pemegang kunci surga. Dalam sebuah taklim di hadapan para sahabatnya, Rasul mengatakan bahwa sebentar lagi akan masuk seorang yang kelak akan memegang kunci surga. Semua sahabat terpana. Sampai seorang Umar bin Khattab 'iri' dengan penyematan istilah tersebut. Tidak lama kemudian masuklah orang yang dimaksud.

    Orang ini penampilannya biasa-biasa saja. Tidak ada ciri khusus. Karena penasaran, Umar meminta izin untuk menginap di rumah orang tersebut. Tiga hari Umar RA menginap di rumah orang ini. Namun, dia tidak menemukan amalan khusus orang tersebut.

    Ketika Umar bertanya, apa rahasianya. Orang itu menjawab, "Ibadah dan amalanku sebenarnya biasa saja, wahai Umar. Hanya selama hidupku, aku diajari oleh ibuku untuk tidak punya perasaan buruk sangka terhadap apa pun dan siapa pun. Barangkali itulah amalan yang dimaksud Rasulullah SAW."



    Sumber:  http://www.republika.co.id/ 







    »»  Selanjutnya...
    Bookmark and Share

    Ibadah dan Penghasilan

    hadicoyy-212
    Banyak orang beranggapan bahwa kualitas ibadah hanya ditentukan oleh syarat, rukun, dan kekhusyukan dalam pelaksanaannya. Misalnya, shalat yang berkualitas adalah yang didahului oleh wudlu yang benar, suci pakaian dan tempatnya, serta khusyuk dalam melakukan setiap rukunnya. Demikian pula dengan ibadah-ibadah yang lain.

    Saad bin Abi Waqqash RA bertanya kepada Rasulullah SAW tentang rahasia agar ibadah dan doa-doanya cepat dikabulkan. Rasul SAW tidak mengajari Sa'ad tentang syarat, rukun, ataupun kekhusyukan. Rasul mengatakan, ''Perbaikilah apa yang kamu makan, hai Sa'ad.'' (HR Thabrani).

    Ada sindiran yang hendak disampaikan Rasulullah SAW lewat hadis di atas. Yaitu, bahwa kebanyakan manusia cenderung memperhatikan 'kulit luar', tapi lupa akan hal-hal yang lebih urgen dan fundamental.

    Setiap Muslim pasti mengetahui bahwa shalat atau haji mesti dilakukan dengan pakaian yang suci. Pakaian yang kotor akan menyebabkan ibadah tersebut tidak sah alias ditolak. Namun, betapa banyak di antara kaum Muslim yang lupa dan lalai bahwa makanan yang diperoleh dari cara-cara yang kotor juga akan berujung pada ditolaknya ibadah dan munajat kita.

    Rasul SAW telah mengingatkan, ''Demi Zat Yang menguasai diriku, jika seseorang mengonsumsi harta yang haram, maka tidak akan diterima amal ibadahnya selama 40 hari.'' (HR Thabrani).

    Dalam hadis lain yang dinukil Ibnu Rajab al-Hanbali, Rasul SAW bersabda, ''Barangsiapa yang di dalam tubuhnya terdapat bagian yang tumbuh dari harta yang tidak halal, maka nerakalah tempat yang layak baginya.''

    Di sinilah terlihat dengan jelas, korelasi antara kualitas ibadah dan sumber penghasilan. Bahkan, karena ingin memastikan bahwa semua yang dikonsumsi berasal dari sumber yang halal, para Nabi dan Rasul menekuni suatu pekerjaan secara langsung untuk menghidupi diri dan keluarga mereka.

    Nabi Dawud adalah seorang pandai besi dan penjahit, Nabi Zakaria seorang tukang kayu, Rasulullah SAW adalah seorang pedagang, dan seterusnya. Demikian pula dengan para sahabat yang mulia; mayoritas kaum Muhajirin berprofesi sebagai pedagang, sementara kaum Anshar mengandalkan hidupnya dari pertanian.

    Lebih dari itu, ketika seseorang bergelimang harta haram, dan ia menafkahi keluarganya dengan harta tersebut, sebenarnya ia tidak hanya menodai ibadahnya sendiri. Tapi, juga menodai ibadah dan masa depan anak-istrinya.

    Seperti komentar Syekh 'Athiyah dalam Syarh al-Arbain an-Nawawiyah, ''Orang tua seperti itu secara sengaja membuat ibadah dan doa anak-anaknya tertolak. Sebab, ia menjadikan tubuh mereka tumbuh dari harta yang haram.'' Wa Allahu a'lam.




    Sumber:  http://www.republika.co.id/ 

    »»  Selanjutnya...
    Bookmark and Share

    Mencermati Kondisi Batin: Ketika Mempunyai Kebutuhan Besar

    hadicoyy-212
    Orang kepepet dan mempunyai hajat yang besar biasanya dekat dan berharap banyak kepada Tuhan, mengapa?
    • Bagaimana menstabilkan emosi disaat-saat sedang terdesak?
    • Apa yang harus dilakukan sebagai umat beragama dan bagaimana resepnya untuk keluar dengan tenang dari kesulitan hidup?



    Ketika seseorang mempunyai hajat dan kebutuhan besar apalagi sangat mendesak,  pada saat itu lah orang seringkali melakukan sesuatu yang luar biasa.
    Contoh hajat besar dalam kehidupan sehari-hari kita ialah orangtua sakit keras dan jiwanya terancam sementara tidak punya uang untuk menebus resep obat dari dokter. Anak terancam akan di keluarkan (DO) jika pembayaran SPP tidak dilunasi hari itu. Bertemunya berbagai kepentingan mendesak dalam waktu bersamaan, seperti kontrakan rumah harus dibayar, hutang jatuh tempo, sementara anak sakit keras. Hal-hal seperti ini seringkali membuat seseorang merasa tersisih dan terpojok.

    Dalam mengatasi hajat dan keperluan mendesak itu, ada orang yang memilih untuk menempuh segala cara tanpa mempedulikan apakah itu halal atau haram, apakah melanggar hukum atau tidak, yang penting adalah pemenuhan hajat dan kebutuhannya terwujud. Cara-cara seperti ini bukan hanya dilakukan oleh orang-orang biasa tetapi juga dilakukan oleh orang-orang yang relatif memiliki status sosial yang lebih baik. Ada juga orang berusaha menenangkan dirinya sendiri di samping berusaha secara ekstra sambil memohon petunjuk dan pertolongan Allah SWT.

    Tidak mudah membedakan atara hajat dan kebutuhan besar dan mendesak dengan yang bukan karena ukurannya sangat subyektif. Mungkin seseorang menganggap suatu hajat dan kebutuhan besar, tetapi bagi orang lain tidak. Jadi jenis, tingkat, kuantitas, dan kualitas kebutuhan itu sangat ditentukan oleh orang per orang.

    Di dalam Islam, hajat dan kebutuhan itu dibedakan atas tiga tingkatan. Pertama disebut kebutuhan darurat atau kebutuhan yang bersifat primer meliputi lima kebutuhan pokok (dharuriyyat al-khamsah) yang harus dipertahankan, yaitu agama, jiwa, akal, martabat keturunan, dan harta.

    Seseorang dipandang mati syahid dan terbebas dari sanksi manakala seseorang melakukan tindakan pembelaan terhadap salahsatu dari kelima kebutuhan pokok tersebut. Islam melarang syirik untuk memelihara agama. Islam melarang pembunuhan untuk memelihara jiwa. Islam melarang minuman keras untuk memelihara akal. Islam melarang zina untuk memelihara keturunan. Dan, Islam melarang pencurian untuk memelihara harta.

    Kedua kebutuhan hajjiyat atau kebutuhan sekunder, yakni kebutuhan yang mendesak tetapi belum sampai pada tingkat  dharuriyat, misalnya kebutuhan seseorang akan rumah, telpon, dan kendaraan.

    Ketiga kebutuhan tahsiniyat atau luxury, yaitu kebutuhan assessoris kehidupan. Kebutuhan ini tidak memengaruhi eksistensi kehidupan tetapi lebih merupakan pelengkap, seperti rumah asri, kendaraan dan pakaian yang bermerek (branded).

    Secara skematis, ketiga tingkat kebutuhan itu bisa dipilah dan dibedakan. Tetapi secara emosional, masing-masing orang meresponinya berbeda-beda. Boleh jadi kebutuhan level ketiga (tahsiniyat) tetapi orang-orang tertentu meresponinya berlebihan, melampaui responnya terhadap ketika tingkatan kebutuhan di atasnya.

    Dalam Islam, memang ada kaedah yang mengatakan bahwa ”hajat yang mendesak menempati posisi darurat” (alhajah tanzilu manzilah al-dharurah), sementara ”darurat itu membolehkan sesuatu yang tadinya tidak boleh” (al-dharurah tubih al-makhdhurat).

    Namun yang dimaksud di dalam kaedah itu ukurannya bukan selera atau mempertahankan prestise tetapi betul-betul menyangkut kelangsungan eksistensi keberadaan dan kapasitas manusia sebagai hamba atau sebagai khalifah.

    Hajat yang besar bisa diungkapkan dalam suasana batin betapa terasa kemahakuasaan Tuhan pada satu sisi dan betapa keterbatasan dan kelemahan hamba pada sisi lain.

    Relasi kehambaan seorang manusia dengan Tuhanya lebih terasa bagi seseorang yang menghadapi kebutuhan dan kesulitan besar.

    Kebesaran dan keagungan Tuhan akan lebih terasa bagi seseorang yang sedang berhadapan dengan keganasan alam, seperti berhadapan dengan ombak besar di tengah laut, dalamnya goa yang gelap gulita, gemuruh suara halilintar yang menggelepar, kencangnya angin puting beliung, dahsyatnya topan salju yang menusuk tulang, atau di tengah berbagai jenis gempa bumi. Semua orang merasa butuh pertolongan Tuhan ketika itu.

    Kiat untuk mendapatkan hikmah dan sekaligus jalan keluar terhadap hajat dan kebutuhan yang sedang kita alami ialah dengan cara memperkuat semangat raja’, yaitu rasa kebutuhan yang amat sangat terhadap pertolongan dan perlindungan Tuhan. Ketergantungan kita kepada Tuhan begitu besarnya sehingga seolah-olah tidak ada lagi dewa penolong lain selain hanya Allah SWT. Diri kita terasa tidak ada apa-apanya sementara Tuhan terasa Maha Segalanya. Sikap raja’ diawali dengan rasa takut (khauf) kepada Allah SWT.

    Seringkali di tengah perjalanan tadinya hajat dan kebutuhan seorang hamba adalah sesuatu yang bersifat materiil atau duniawi tiba-tiba beralih kepada Tuhan, seolah tadinya yang menjadi hajat besarnya adalah jalan keluar dari kesulitan kehidupan dunianya tiba-tiba itu hanya menjadi kebutuhan sekunder atau kebutuhan aksessoris. Yang menjadi kebutuhan dan harapan utama ialah ridla Allah Swt. Dalam kondisi batin seperti ini seorang hamba berpotensi menjalin kedekatan diri dengan Tuhannya. Dengan kata lain, hajat dan kebutuhan menjadi perantara efektif antara hamba dengan Tuhannya.

    Kiat selanjutnya tentu saja adalah doa. Tanpa doa seseorang akan dinilai angkuh dan sombong, seolah-olah yang bersangkutan tidak membutuhkan Tuhan di dalam mewujudkan hajat dan keperluannya.

    Etika berdoa ialah sedapat mungkin badan dan jiwa kita bersih. Disarankan berwudhu lalu membersihkan hati dan meluruskan jalan pikiran serta diringi perasaan tawadhu dan raja’ kepada Allah Swt. Doa diawali dengan lafaz tahmid dan puji-pujian kepada Allah SWT, kemudian selawat kepada Rasulullah SAW, kemudian masuk ke materi hajat kita, memohon berkah dari apa yang diharapkan, lalu ditutup dengan surah Al-Fatihah.

    Kiat lain bisa diiringi dengan nazar, yaitu komitmen tertentu kepada Allah yang akan kita lakukan jika hajat dan harapan kita dikabulkan. Misalnya kalau hajat dan harapan saya dikabulkan saya akan memberi makanan kepada 60 orang yatim piatu atau berpuasa 3 hari sebagai tanda syukur dan terima kasih kepada Allah Swt. Nazar bias menjadi triggle atau energi pendorong doa ke langit. Namun disarankan nazar ini dilakukan tidak terlalu sering sehingga menimbulkan kesulitan diri sendiri, karena nazar wajib untuk direalisasikan.

    Kesimpulannya, hajat dan kebutuhan besar kita berpotensi untuk lebih mendekatkan seorang hamba kepada Tuhan. Hajat perlu dicermati agar tidak sebaliknya, menjerumuskan kita ke perbuatan yang tercela.

    Hajat kita dapat dimohonkan kepada Allah dalam bentuk doa dan kalau perlu dengan nazar. Hajat paling besar bagi seorang hamba adalah memperoleh ridha Allah SWT.

    Jangan sampai hajat besar kita yang bersifat duniawi menenggelamkan hajat kita yang sesungguhnya paling besar ialah taqarrub, berdekatan sedekat mungkin dengan-Nya.

    Alhamdulillah, berbahagialah orang yang dapat memperoleh kedua hajat tersebut.




    Sumber : http://www.republika.co.id/ 
    »»  Selanjutnya...
    Bookmark and Share
     
    Copyright 2010 hadicoyy-212
    Revive Blue Blogger template by Introblogger Distribution by New Blogger Templates